Menjelang kenaikan kelas, para orang tua sibuk mengajarkan anaknya dalam menghadapi ujian, bahkan salah seorang Ibu pernah berseloroh kepada saya; “anak yang ujian jadi ibunya yang ikut stress”. Ketika selesai ujian banyak pertanyaan orang tua yang sering saya dengar;
“Rangking berapa kamu ?”
“Dapat berapa ujianmu?”
Bila sang anak tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan criteria orangtua, ada yang langsung menyalahkan sang anak; “Tuh kan … kamu sih main terus, nggak pernah belajar”
Menarik bila kita mencoba mengenang perjalanan hidup kita, melalui sarana facebook, saya melihat beberapa teman SD, SMP dan SMA. Pertama kali saya akan melihat fotonya, profil dan status yang dikirimkan, bahkan terkadang saya berusaha untuk dapat bersilaturahmi.
Beberapa teman saya ada yang sudah sukses, saya melihat mereka sudah melancong ke beberapa negeri di dunia. Menariknya, seingat saya, kebanyakan mereka adalah orang orang yang semasa sekolahnya tampak “badung/berani” , tidak mau “terikat”, pandai bergaul dan prestasi akademiknyapun termasuk kurang memuaskan.
Saya jadi teringat dengan beberapa kisah hidup para tokoh yang hampir sama dengan kisah hidup beberapa teman saya. Baca saja lembaran hidup seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein dan Soichiro Honda. Kebanyakan dari para tokoh tersebutadalah orang yang dianggap “bodoh” pada masa sekolahnya; sampai sampai seorang Thomas harus keluar dari sekolah dan dididik langsung oleh ibunya dan Einstein harus pindah sekolah karena dianggap murid yang dungu.
Kesuksesan tidak selamanya berbanding lurus dengan kepintaran, beberapa penelitian menunjukkan bahwa seorang yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) memiliki peluang kesusksesan yang lebih besar dibandingkan dengan seorang yang memiliki kecerdasan Intelektual (IQ).
Perhatian pada EQ adalah pada sebuah proses perjalanan sedangkan IQ adalah pada hasil yang seringkali ditampilkan pada bilangan nominal. Bahkan Allah yang Maha Pengasih juga lebih memperhatikan pada sebuah proses, lihatlah dalam beberapa firman-NYA pada kitab suci-NYA ; “.…Berusahalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat usahamu …” (Q.S. At-Taubah 9:105).
Setiap anak mempunyai potensi dan setiap potensi tidaklah sama pada semua anak, tidak adil bila kita menyamakan hasil seorang anak dengan yang lainnya. Berikanlah mereka sebuah proses yang baik, belajar dari sebuah proses, mengambil hikmah dari perjalanan proses yang pada akhirnya dia menikmati proses tersebut.
“Nilai kamu kurang bagus nak, tapi kalo kamu sudah berusaha dan tidak dengan menyontek, Ibu sudah bangga”
Rasanya akan lebih baik didengar karena ukuran kesuksesannya bukan kita yang menentukan tetapi dari apa yang mereka perjuangkan …..
Selamat hari Ibu, Terima Kasih Ibu atas didikan yang engkau berikan …
0 komentar:
Poskan Komentar